Konon dulunya jika hendak masuk ke Masjid Selo dari Kraton harus dari arah plengkung wijilan ke Selatan.
"Itu pas ketika bangunan ndalem masih ada lewatnya arah Plengkung Wijilan ke Selatan. Tetapi kemudian bangunan ndalem sudah tidak ada lagi," jelasnya.
Baca Juga:
Pangdam I/BB Kunker Kewilayah Brigif TP 37/HS, TNI Mendukung Pembangunan dan Keamanan di wilayah Kabupaten Karo
Ketika bangunan-bangunan Kraton lambat laun mulai beralih fungsi menjadi pemukiman warga, tersisa satu bangunan masjid yang saat ini berdiri kokoh di perkampungan ini.
Akan tetapi pada saat itu masjid terbengkalai, karena tidak difungsikan oleh masyarakat.
"Kemudian sekitar tahun 1965 beberapa tokoh masyarakat melihat kok ini ada bangunan masjid gak dipakai. Kemudian mengirim surat kepada kraton yang intinya mohon izin untuk menggunakan bangunan," jelas pria yang akrab disapa Narwi ini.
Baca Juga:
Lamhot Sinaga Soroti Perlindungan Pelaku Kreatif Usai Kasus Amsal Sitepu Viral
"Oleh kraton mengizinkan keno nganggo nanging ora keno owah-owah (boleh digunakan tetapi tidak boleh mengubah bangunan)," ujarnya.
Mulai saat itu warga gotong royong untuk membersihkan masjid yang dulunya digunakan untuk menyimpan keranda mayat tersebut.
"Oleh masyarakat dibersihkan, kerandanya dibikinkan tempat sendiri. Awal digunakan lantainya masih model lama. Dari jerambah pakai semen terus ditutup tikar," katanya.